Kontemplasi Diri dan Purifikasi Paradigma Mahasiswa Indonesia dalam Menjawab Berbagai Dinamika di Turki
Kontemplasi Diri dan Purifikasi Paradigma Mahasiswa Indonesia dalam Menjawab Berbagai Dinamika di Turki
by Kelana Yudinta Akbar
Masifnya kuantitas mahasiswa Indonesia di Turki dari tahun ke tahun memiliki dampak yang besar dalam segala sektor. Dilansir dari Konstantinesia.com (2023), merujuk pada data yang diambil dari UDEF (Uluslararası Öğrenci Dernekleri Federasyonu) pada tahun 2023, jumlah mahasiswa Indonesia di Turki total mencapai 4.662 mahasiswa dengan kurang lebih 700 diantaranya berada di Sakarya. Ibarat pisau, jumlah yang banyak ini memiliki dua sisi yang menimbulkan problematika dan kegemilangan di saat yang bersamaan.
Ekspektasi kuliah di luar negeri genap dengan segala bayangan keindahannya didukung dengan proses administrasi registrasi kampus yang relatif mudah membuat banyak pelajar Indonesia berbondong-bondong pergi ke Turki. Alasannya tentu beraneka ragam, tapi karena sosialisasi yang didapatkan bahwa Turki memiliki biaya kehidupan relatif murah, pilihan beasiswa yang beraneka ragam, serta proses yang tidak menyulitkan para pelajar membuat mereka menjadikan negara Benteng Terakhir Islam ini sebagai pilihan.
Penulis akan menguraikan berbagai problematika yang penulis temukan setelah melakukan diskusi bersama beberapa mahasiswa senior dan mencoba menjabarkannya dalam analisis sederhana. Mengingat keterbatasan pengetahuan penulis serta minimnya pengalaman kehidupan di Turki, maka penulis memohon maaf sebesarnya bila nantinya ditemukan kesalahan. Semoga ikhtiar penulis ini tidak hanya menjadi bahan tolak ukur keseriusan namun juga bahan pertimbangan lebih lanjut demi kebaikan bersama.
Teori yang dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies tentang pembagian kelompok masyarakat sepertinya sejalan dengan realita yang terjadi dan menimpa mahasiswa Indonesia di Turki. Bahwa semakin besar suatu kelompok akan semakin banyak kelompok kecil yang terbentuk. Hal ini menimbulkan banyak problematika dari berbagai lini kehidupan yang kompleks dan sulit untuk diuraikan dalam berbagai perspektif. Namun, setidaknya problematika yang ada memiliki garis besar dan mampu ditarik akar permasalahannya.
Sebagai media komunikasi yang menjadi penyambung lidah mahasiswa Indonesia, bahasa Turki yang dikenal sangat sulit ini mempengaruhi ke semua akar permasalahan. Baik dari sektor akademik, lingkungan, ekonomi, dan semua aspek keberlangsungan kehidupan mahasiswa. Semangat dan motivasi yang fluktuatif disinyalir menjadi penyebab stagnasi perkembangan bahasa dalam setiap individu. Mereka cenderung mengakrabkan diri pada zona nyaman dengan memilih lingkaran pertemanan Indonesia yang lebih dominan. Hal ini memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, namun bila dilihat dari kacamata lain, inferioritas dan rasa malas yang timbul untuk memperluas cakrawala lingkungan disebabkan oleh motivasi yang kurang kuat dari setiap individu. Polarisasi mahasiswa memang tak dapat dihindari, tapi dalam beberapa kasus hal ini menyebabkan individu enggan untuk berekspresi ke luar.
Motivasi mahasiswa yang kerap kali tidak tepat sasaran barangkali menjadi alasan yang tepat untuk diungkapkan dalam sebuah kalimat “Kuantitas tidak sebanding dengan kualitas”. Alasan yang kuat untuk menemukan keberadaan dan untuk apa memilih menginvestasikan masa muda di negeri ini dirasa belum utuh dan tidak mencerminkan alasan yang kuat. Seolah-olah keputusan yang diambil dianggap sebagai safari popularitas di lingkaran pertemanan lamanya untuk menaikkan derajat hidup yang sebenarnya merupakan orientasi yang keliru.
Domino permasalahan bahasa Turki ini sampai pada urusan akademik. Dimana satu per satu mahasiswa mengeluhkan persoalan yang tidak jauh beda, yakni kerumitan bahasa Turki yang tidak linier antara hasil pembelajaran di Türkce Öğretim Merkezi (Tömer) dengan realita perkuliahan menyebabkan mereka kesulitan menerima pembelajaran dan tidak efektif.
Ekspektasi ekonomi yang banyak dikatakan media baik agensi pendidikan maupun dari mulut ke mulut tentang murahnya biaya kehidupan dan kuliah menarik atensi lebih. Hal ini kemudian membutakan realita lainnya tentang aspek sosial dan kultur yang berlaku. Berangkat dari transparansi yang kurang disandarkan pada realita menyebabkan banyak misinformasi yang tersebar dan membekukan paradigma “Turki dengan kehidupan murahnya” sehingga hal inilah yang menarik perhatian banyak masyarakat kita. Sejalan dengan hal itu, paradigma yang dibangun ini sukar dihapus karena agensi pendidikan tentu memiliki kepentingan di baliknya.
Dampaknya pada siapa? Kepada mereka yang sudah segenap kepercayaan menyalurkan dananya dengan jumlah yang besar namun dibayangi dengan ekspektasi kehidupan yang murah. Pada akhirnya, hal tersebut menyebabkan dalam beberapa kasus munculnya kesenjangan ekonomi. Selagi telah dibutakan dengan paradigma yang penulis maksudkan, maka riset dan kajian mendalam terkait realita ekonomi dan kultur sosial yang ada di Turki bukan menjadi sebuah urgensi bagi segolongan orang.
Masalah berikutnya datang dari sektor sosial. Degradasi moral yang menjadi momok utama mahasiswa Indonesia disebabkan oleh kebebasan absolut yang didapatkan. Problematika ini sedikit banyak mempengaruhi lajur kehidupan dan pondasi diri setiap individu. Didukung dengan model gaya hidup barat yang dipertontonkan secara terang-terangan dan sudah menjadi budaya yang normal mengakibatkan terkikisnya nilai tata krama dan moralitas. Akulturasi kebebasan absolut dan budaya barat menyebabkan terjadinya perubahan dinamika sikap.
Rangkaian masalah yang telah penulis paparkan sebelumnya dengan segala keterbatasan riset yang telah dilakukan hanyalah sebagian kecil untuk bahan pertimbangan dalam merancang berbagai aksi strategis ke depan. Penulis menawarkan konsep Story of Me, Story of Us, dan Story of Now sebagai salah satu jalan dalam perancangan isu strategis demi menjawab berbagai problematika yang dihadapi.
Story of Me, menjadikan bahan evaluasi dan refleksi yang dialami oleh mahasiswa senior melalui kajian empiris terkait pengalaman yang telah dilakukan. Hasil dari kumpulan cerita tersebut dikumpulkan dalam catatan tertulis yang dijadikan sebagai referensi fakta lapangan dan digunakan sebagai bahan tinjauan lebih mendalam dengan riset yang terukur.
Story of Us, kumpulan cerita tersebut tentu memiliki sedikit banyak kesamaan. Rangkaian bentuk kontemplasi yang dilakukan para mahasiswa senior dijadikan referensi utama dalam perancangan isu strategis dan kebijakan jangka panjang. Berbagai dinamika yang terjadi sekecil apapun dampaknya tak langsung dijadikan angin lalu semata. Segala bentuk cerita dari setiap individu dirasa penting sebagai acuan orientasi pergerakan.
Story of Now, cerita apa yang akan kita lakukan sekarang dan rencana apa yang akan kita rancang? Ini menjadi tahapan selanjutnya sebagai langkah yang kongkrit dengan referensi yang jelas sebelumnya. Ada baiknya, proses refleksi dan tinjauan strategis tidak hanya dimaksudkan pada kajian seputar problematika mahasiswa lama saja, tapi juga paradigma mahasiswa baru yang perlu ditanamkan sejak dini terkait berbagai pandagan kehidupan dan pengalaman.
Memotong masalah mayor ke dalam isu-isu kecil sehingga capaian-capaian kecil bisa dirasakan dan mendorong semangat kita untuk terus melangkah menuju ke gelanggang yang lebih besar. Dalam hal ini, peran mahasiswa untuk merefleksikan kembali kehidupannya harus dituangkan dalam bentuk tulisan atau menyebarkannya dalam media tersiar, forum besar, dan pendekatan personal. Menurut penulis, forum personal dan lingkup kecil inilah yang akan memiliki dampak besar dalam menyebarkan semangat dan gagasan utama untuk lebih merasuk dan menyiapkan generasi yang akan datang dengan minimalisasi kesalahan karena tidak ada tekanan di dalamnya.
Kolaborasi metode analisis dengan menggunakan analisis sosial dan appreciative inquiry diharapkan mampu menyimpulkan sebuah konklusi yang komprehensif untuk menjawab berbagai isu yang dihadapi. Pendekatan masalah digunakan sebagai bahan refleksi serta pendekatan defisit digunakan sebagai tawaran solusi alternatif dalam menyusun kebijakan.
Merangkul kebaikan dalam sebuah keburukan menjadi salah satu urgensi. Keluar dari zona nyaman untuk mengeksplorasi diri memang dibutuhkan. Tapi penulis lebih suka menggunakan kalimat “memperluas zona nyaman” sebagai acuan bergerak dan menemukan banyak hal baru.
Sebagai “Wajah Indonesia” dan reinkarnasi semangat Bung Hatta dalam menyusun dialektika dan kebijakan yang mengantarkan pada kemerdekaan Indonesia, kita sebagai anak kandung Ibu Pertiwi harus mampu mengoptimalkan segala kemampuan yang ada. Degradasi moral dan problematika sosial yang timbul tidak lantas untuk disingkirkan melainkan dihadapi dengan kesiapan; diantaranya melalui rangkulan tangan dan gerak langkah yang sama dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.
Seluruh mahasiswa Indonesia harus mampu menaklukkan pengembaraan ilmunya di Tanah Dua Benua ini untuk menyebarkan semangat kebaikan dan kebijakan luhur yang telah diamanatkan konstitusi oleh founding father kita.
Demi menyingkap tirai kegelapan menuju peradaban cerah nan mencerahkan.
Demi Sakarya. Demi cita-cita mulia.
REFERENSI / DAFTAR PUSTAKA
Konstantinesia.com (2023). Peningkatan Signifikan Jumlah Mahasiswa Indonesia di Turki: Ada Kualitas atau Hanya Kuantitas? Diperoleh dari https://www.konstantinesia.com/2023/10/peningkatan-signifikan-jumlah-mahasiswa.html
Afferin Endonezya: 10 Taahun PPI Sakarya Mengabdi Untuk Kebaikan